Selasa, 30 Oktober 2012

Eks GAM Sekap Ketua BRA, Akhirnya Berhasil Diringkus



Dalam dua hari terakhir Harian Serambi Indonesia mewartakan kasus penyekapan terhadap Hasan Usman (40), warga Desa Aron, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Koordinator Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Kecamatan Syamtalira Aron itu disekap sepuluh pria di dalam kandang kambing dan dipukuli hingga babak belur pada Rabu (24/10). Penyekapan itu dilakukan dengan motif untuk mendapatkan uang tebusan Rp 10 juta dari keluarga korban.
Sebelumnya, empat dari sepuluh pelaku yang dikenal dengan baik oleh korban meminjam mobil milik korban. Setelah mobil dipakai dan kembalikan, lalu pelaku meminta uang, namun tak dipenuhi korban. Akibatnya, korban diculik dan disekap.
Untungnya, drama penyekapan ini hanya berlangsung sehari, karena polisi dari Polres Aceh Utara dan Polsek Syamtalira Aron mampu dengan cepat mendeteksi lokasi penyekapan, yakni di sebuah kandang kambing, Desa Mayang Baroh, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Korban akhirnya berhasil dibebaskan polisi tanpa uang tebusan.
Dalam editorialnya pada Senin, 29 Oktober 2012, Media cetak andalan Aceh, Harian Serambi Indonesia, menyampaikan apresiasi tinggi yang kepada aparat kepolisian di Aceh Utara yang dalam tempo singkat berhasil membebaskan sandera tanpa letusan senjata dan tumpah darah. Hebatnya lagi, katanya, empat dari sepuluh tersangka berhasil diciduk tanpa perlawanan. Ini prestasi gemilang, karena biasanya drama penyekapan berlangsung lama, harus pula bayar uang tebusan lebih dulu barulah sandera dibebaskan, dan para pelaku biasanya jarang tertangkap dalam keadaan hidup.
Warga Aceh yang memberikan komentar terhadap berita tersebut juga menyatakan hal yang sama. Seperti diungkapkan oleh Musa “kami masyarakat aceh utara sangat berterima kasih kepada aparat keamanan di aceh utara yang telah berani menangkap penculik. yang selama ini di kenal sangat arogan terhadap masyarakat Mereka sangat di takuti karena mereka Mantan anggota GAM. semoga pak polisi meneruskan penyelidikan para penculik ini sampai ke pengadilan jangan di bebaskan walaupun mereka mantan anggota GAM (GPK)Tukang Perusak Aceh”.
            Tidak ketinggalan, Usuh juga mengatakan “Hai pak polisi neu tulong peusampoe siat bak si nyak nadir. dikamoe meu tu oh jok keudroe sie keu aneuk yatim hana payah ji uruh di awak PA hare. Bek hanu meupue-peu ka urusan awak PA sang- sang nanggroe aceh nyoe nanggroe ma jih.dan pajak nanggroe bek jijak cok Le Kon nanggroe PA nyoe.Nanggroe nyoe adalah Nanggroe Indonesia Kasep Geu ato Masalah Pajak.bek Suwah bayeue pajak keu PA.Terimakasih, semoga pak polisi kamoe doakan semoga bagah meuteumeung yang 6 droe teuk”.
            Tak ada cerita, Aceh harus tetap aman … terus damai tenteram supaya masyarakat Aceh bisa menjalani kehidupan dengan baik demi diri dan keluarganya. Tak ada kompromi dan hana tempat bagi para pengganggu, perusuh, dan penjahat. Kami akan lawan, biar mereka eks anggta GAM yg dulu sangat kami takuti. Sekarang …. GO TO HELL kalian !

Pemuda Aceh Harus Miliki Integritas



     Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Ihsanuddin MZ mengatakan bahwa pada era saat ini makna Sumpah Pemuda 1928 harus dimaknai oleh pemuda di Aceh dengan semangat untuk menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan untuk membangun perekonomian di Aceh.

     "Integritas dan karakter kewirausahaan penting dimiliki pemuda Aceh untuk memacu pertumbuhan ekonomi negeri yang baru saja usai didera konflik berkepanjangan ini," katanya. Untuk itu, semangat entreprenurship harus dimiliki setiap pemuda Aceh, hal ini berguna untuk mengejar ketertinggalan ekonomi Aceh dengan provinsi lain di Indonesia.

     "Aceh butuh pemuda yang memiliki jiwa entrepreneurship yang handal dan tangguh," tukasnya.

     Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh T.Setia Budi mengatakan bahwa kedepan pemuda harus meningkatkan kualitas dan kompetensi diri, hal ini dikarenakan tantangan kedepan pemuda semakin berat.

     "Globalisasi merupakan tantangan yang harus dijawab dengan kualitas dan kompetensi diri para pemuda, karena hanya pemuda yang memiliki kualitas dan komptensilah yang dapat bersaing kedepan," tandasnya.


     TEPAT SEKALI ... dan ... SANGAT SETUJU.

     Damailah, Majulah, Jayalah ... ACEHku tercinta.

Selasa, 31 Juli 2012

Membongkar Janji-janji Aceh-1 dan Aceh-2


Hari ini, lebih sebulan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai nakhoda Aceh. 25 Juni lalu merupakan sebuah angka waktu yang sangat bersejarah bagi pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.
 Betapa tidak, dua lelaki yang sebelumnya berseberangan faham dengan negara Republik Indonesia, telah secara sah dilantik sebagai perpanjangan tangan Republik di ujung Sumatera.
Sebagai pasangan representatif rakyat, Zikir (begitu pasangan ini disebut), mempunyai tanggung jawab besar untuk menahkodai Aceh lima tahun mendatang. Banyak harapan yang disematkan kepada keduanya oleh rakyat. Mulai dari pembangunan ekonomi, pengentasan kemiskinan, sampai dengan upaya pemberantasan korupsi di negeri syariat.
 Namun diantara semua itu, membuka “bungkoh MoU” merupakan sesuatu yang sangat dinantikan oleh rakyat akan seperti apa definisinya kelak?.
Hal ini tentu saja sejalan dengan janji politik yang telah mereka lontarkan kepada rakyat saat berkampanye dulu. Baik yang dijanjikan secara langsung oleh Zaini dan Muzakir Manaf, maupun yang dijanjikan oleh tim sukses saat berkampanye.
Menurut catatan, diantara janji-janji yang pernah dilontarkan pasang ini adalah akan memajukan Aceh seperti Brunei Darussalam dan Singapura. Menyempurnakan UUPA, kepedulian terhadap janda dan anak yatim, peningkatan pendidikan serta pemberantasan korupsi yang menjadi prioritas. Selain itu juga akan menaikkan gaji pegawai dan honorer, termasuk aparat desa.
“Sudah 30 tahun Aceh kepanasan, Partai Aceh siap mendinginkan Aceh dan masyarakatnya,” Ucap Fakrul Razi, juru bicara PA pusat yang saat itu diturunkan sebagai jurkam di lapangan T. Chik Ampon Tayeb, Kecamatan Peureulak Kota, Minggu (25/3)
Bahkan janji yang lebih ‘menggiurkan lagi’ pernah dikatakan Muzakkir Manaf saat berkampanye di Lapangan Blang Asan, Kecamatan Peusangan, Bireuen (28/3). Ia menjanjikan memberikan uang setiap bulan untuk setiap KK di Aceh Rp 1 juta dengan dana yang diambil dari hasil migas. Selain itu juga mengupayakan quota haji untuk Aceh. Naik haji gratis untuk anak Aceh yang sudah akil baliq. Juga pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar.
Selain janji dia atas, masih banyak janji lainnya, dan terkesan muluk-muluk, tentu saja mengundang rasa percaya dan tidak percaya dikalangan rakyat. Apalagi ada beberapa janji yang ditebar pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir) tersebut bersentuhan langsung dengan mimpi rakyat jelata, seperti uang gratis Rp 1 juta per bulan serta naik haji secara gratis dan dengan kapal mewah.
Setidaknya ada empat janji Zikir yang dinilai sangat ditunggu oleh masyarakat. Yaitu tentang pendidikan gratis, peningkatan mutu kesehatan, ibadah haji gratis dan pembagian Rp 1 juta per Kepala Keluarga (KK).
“Sebagai pribadi, saya sangat mendukung semua program pro rakyat yang pernah dijanjikan oleh Gubernur kita yang baru. Saya yakin bila mereka tidak akan ingkar janji. Apalagi dengan empat janji yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat kecil seperti saya ini,” Kata Visri (20) mahasiswa Universitas Almuslim, warga Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang Bireuen sambil tersenyum.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Fajri Ilyas (21) warga Bugak Krueng, kecamatan Jangka, Bireuen. Dia berharap agar Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang baru tidak ingkar janji. Pasangan yang diusung oleh Partai Aceh itu, jangan sampai mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Gubernur Aceh sebelumnya yang gagal mensejahterakan rakyat.
 “Saya mendukung kedua pasangan ini untuk merealisasikan janjinya. Semoga saja dengan uang satu juta per kepala keluarga itu serta ibadah haji gratis, mampu menyelamatkan ekonomi keluarga miskin seperti kami. Juga memberikan kesempatan kepada kami agar dapat serta menunaikan ibadah haji,” ujarnya.
Bagi Fajri, menghajikan ibunya merupakan mimpi yang sangat besar sekali. Namun karena ekonomi yang tidak mendukung, mimpi itu harus dikuburnya dalam-dalam.
“Kalau kesempatan berhaji itu sampai kerumah saya dan saya yang mendapatkan giliran pertama sebelum mak saya, maka mak akan saya berikan kesempatan itu terlebih dahulu. Sebab, menghajikan beliau dan dapat mencium hajar aswad merupakan mimpi mak  sejak dulu,” kata mahasiswa jurusan PGSD Unimus, yang harus menjadi tukang RBT untuk membantu membiayai kuliahnya itu. Untuk diketahui, RBT merupakan  singkatan dari rakyat banting tulang, istilah yang agak dramatis buat tukang ojek di Aceh.
 Ismail Puteh (60) warga kecamatan Juli bahkan mengaku dirinya sudah bersiap-siap untuk menunggu implementasi janji “pasangan tua-muda” itu. Bahkan dia sudah menghitung bila bila dalam sebulan dapat Rp 1 juta per KK, maka dalam setahun dapat Rp 12 juta.
Dia berandai-andai, bila ada potongan “uang minum” dalam setiap bulannya sebesar Rp 200.000, maka dia masih bisa mengantongi uang sebesar Rp 9.600.000. angka tersebut tentu sangat besar bagi petani miskin di pedalaman Bireuen.
Ismail sangat bersemangat hingga ia minta tolong kepada wartawan yang mewawancarainya saat itu untuk menanyakan kepada Gubernur terpilih agar memberitahukan syarat-syarat yang harus dilengkapinya agar bisa mendapatkan uang itu. Apakah cukup dengan KK, atau ada foto kopi KTP dan surat pernyataan?.
“Pak wartawan tolonglah tanyakan kepada Gubernur Zaini dan Mualem tentang syarat mendapatkan uang itu. Apa cukup dengan KK, selain itu apalagi? Apa perlu saya siapkan foto kopi KTP dan surat pernyataan?,” katanya penuh harap.
Janji-janji Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (Zikir) ini memang bisa menjadi ukuran keseriusan perhatiannya terhadap keinginan masyarakat Aceh. Semua janji itu, merupakan pertaruhan nama baik pasangan ini. Bila gagal, maka mereka akan dilupakan rakyat. Tapi bila berhasil, maka tidak tertutup kemungkinan mereka akan dipilih kembali karena semakin menguatnya dukungan dan kepercayaan masyarakat Aceh terhadap mereka berdua. Hal ini juga menjadi modal PA (Partai Aceh) di Pemimukada berikutnya tahun 2014 mendatang.
Tentu kita semua, terlebih lagi masyarakat Aceh wajib mendukung pasangan ini untuk mewujudkan semua janji mereka, walau terkesan banyak yang mustahil. Pemerintahan yang masih sangat baru ini perlu diberikan dorongan positif.
Akhirnya, mari kita lihat, dengar, dan tunggu, akan apa yang bakal terjadi. Apakah janji-janji itu benar adanya ataukah hanya sekedar lips service untuk mencari dukungan dan simpati masyarakat agar memilih mereka berdua?.
Lebih dari itu, semua yang nantinya bakal terjadi akan dapat menjawab satu pertanyaan paling serius, yakni apakah benar masyarakat Aceh memilih pasangan yang diusung PA ini karena keluar dari lubuk hati yang paling dalam atau karena ketakutan terhadap intimidasi dan agitasi dari PA, yang notabene diawaki oleh orang-orang mantan anggota militer bersenjata GAM, yang ditakuti masyarakat Aceh, dari dulu hingga sekarang?

Rabu, 18 Juli 2012

Membangun Aceh Baru

Secara jujur patut kita akui bahwa selama ini perbaikan demi perbaikan telah diwujudkan dalam upaya membangun Aceh. Namun apabila kita bandingkan dengan pengorbanan demi pengorbanan selama 30 tahun yang lalu sama sekali belum berimbang. Peradaban kita telah berantakan selama 30 tahun masa konflik seperti persaudaraan Aceh terus berkurang, malu Aceh semakin terkuburkan, adat budaya Aceh semakin terpendam, rumah adat Aceh semakin menghilang, dan kesopanan Aceh juga kini melayang.     

Mampukah pemimpin Aceh baru mengembalikan semua itu seperti zaman kejayaan dulu?

Kalimat membangun Aceh baru tidaklah bermakna mewujudkan satu Aceh lagi selain Aceh yang sudah ada ini, melainkan adalah bagaimana para pemimpin Aceh yang baru terpilih sanggup memperbarui suasana Aceh dan masyarakatnya, menjadi Aceh yang bermakna serta dapat memberikan kesejukan, kenyamanan, kesejahteraan, serta kedamaian bagi segenap rakyatnya. Mampukah para pemimpin baru Aceh menghadirkan suasana baru semisal itu?

Mengikuti jejak endatu
 

Apabila mereka mahu berpandu dan berpacu kepada kesuksesan Penghulu dan para endatu (Rasulullah SAW dan para penguasa Aceh masa kejayaan), insya Allah mereka akan dapat dan mampu merealisasikan semua itu. Tinggal hanya mengikuti jejak langkah para Penghulu dan para endatu tersebut. Secara kasat mata kita dapat melihat para pemimpin baru Aceh sedikit banyak telah melalui langkan dan sepak terjang Penghulu dan para endatu. Mereka telah berhijrah puluhan tahun ke negeri orang untuk membebaskan Aceh dari keterpurukan, hal ini ada kaitannya dengan hijrahnya Nabi Muhammad saw sebagai Penghulu ke Yatsrib (Madinah) sebagai persiapan untuk membebaskan kota Makkah. Sebelumnya sebagian besar sahabat juga diperintahkan Nabi untuk berhijrah dua kali ke Ethiopia dalam upaya yang serupa.
 

Para pemimpin baru Aceh hari ini juga telah berjuang dan berperang melawan kezaliman para penguasa Indonesia yang waktu itu dinilai tidak adil terhadap Aceh. Prihal serupa juga telah dilakukan para endatu ketika membebaskan Aceh dari penjajahan kolonialist salibist dan diperhitungkan oleh penerusnya yang sudah pernah menjarah hasil alam Aceh. Sekali lagi muncul pertanyaan; mampukan para pemimpin Aceh baru menebus semua itu dalam amalan bukan dalam ucapan?

Tentunya membangun Aceh baru ke depan tidaklah sebanding dengan menggembar-gemborkan program JKA atau memberikan beasiswa kepada sejumlah anak bangsa dari hasil anggaran APBA, akan tetapi mesti harus lebih jauh dari itu yang harus dilakukan sehingga keberhasilan yang pernah diperoleh Penghulu dan kejayaan yang pernah dicapai para endatu dapat wujud di Aceh baru bersama para pemimpin baru. Lagi-lagi muncul tanda tanya: Mampukah para pemimpin baru melakukan segala itu untuk Aceh baru?

Kesamaan gerak dan kesamaan perjuangan walaupun cara dan metodanya agak berlainan telahpun terserlah pada para pemimpin baru Aceh dengan apa yang telah diprakarsai Penghulu dan para endatu. Kalau Penghulu berhijrah dari Mekkah ke Madinah disebabkan tidak bisa tinggal dan hidup lagi di Mekkah karena mau dibunuh kaum kafir Quraisy, maka para pemimpin Aceh baru pun berhijrah dari Aceh ke Eropah karena prihal yang sama. Kalau Penghulu dulu berhijrah dalam rangka persiapan menebus kembali tanah tumpah darah yang dimonopoli para penguasa Quraisy, tujuan hijrah para pemimpin Aceh baru juga untuk menebus tanah tumpah darah keuneubah endatu yang sudah lama dijarah para penguasa yang tidak adil.

Kalau Nabi dulu berhijrah dan berjihad sekuat tenaga untuk membebaskan Mekkah yang satu agar Islam mudah tersebar ke seluruh dunia dengan sentral utamanya Mekkah dan Madinah. Maka hijrah dan perjuangan para pemimpin baru Aceh pun semata-mata untuk Aceh yang satu dan agama yang satu yakni Islam sebagai peunulang Penghulu dan keuneubah endatu. Kalau patron ini yang dijadikan ukuran, insya Allah para pemimpin baru Aceh akan berjaya untuk Aceh yang satu dan untuk Aceh baru.

Telusurilah jejak Penghulu manakala berhasil hijrah ke Madinah, maka yang paling utama dan pertama dikerjakan adalah tiga perkara penting; pertama membangun masjid yang dimulai dengan pembangunan masjid Quba sebelum mencapai Madinah dan membangun Masjid Nabawi yang megah di Madinah. Kedua adalah mempersatukan umat antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dan yang ketiga mewujudkan Shahifah Madinah yang kemudian terkenal dengan nama Konstitusi Madinah atau Piagam Madinah.

Karenanya; untuk membangun Aceh baru dengan pemimpin baru bersama konsep Rasulullah, para pemimpin baru Aceh wajib menteladani tiga langkah konkret yang sudah diamalkan Nabi dalam bingkai serupa tetapi langkah berbeda. Kalau Nabi dulu membangun masjid sebagai langkah awal karena pada waktu itu belum ada masjid sama sekali.

Dalam konteks Aceh hari ini masjid sudah merata di seluruh penjuru bumi Aceh, maka yang harus dilakukan para pemimpin Aceh baru adalah mengisi masjid, mengajak rakyat beribadah di masjid dan berdakwah, berkhutbah serta berceramah untuk membangun Aceh dan bangsa di masjid. Jadikan masjid sebagai sentral pembangunan umat, bangsa dan negara sebagaimana yang telah dilakukan endatu kita Iskandar Muda dan para ulama PUSA.

Persatukan semua kelompok
 

Kalau Nabi dulu mempersatukan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin sehingga memiliki rakyat dan bangsa yang komit membantu-Nya dan menjalankan agama-Nya. Maka para pemimpin Aceh baru ke depan pun harus mempersatukan semua komponen dan kelompok bangsa Aceh menjadi bangsa yang satu, rakyat yang bersatu dan menyatu dengan para pemimpin baru. Perlu diingat baik-baik bahwa pemimpin baru Aceh hari ini adalah pemimpin Aceh bukan pemimpin partai A atau partai B walaupun dulu mereka didukung dan dipilih oleh mayoritas partai A dan partai B tersebut.

Kalau kita tidak terlalu ekstrem dapatlah kita umpamakan eksistensi Piagam Madinah itu ada kemiripannya dengan UUPA. Karenanya Nabi berhasil dahulu memimpin Madinah serta menaklukkan Mekkah besar sekali pengaruhnya dengan berkomitmen penuh menjadikan Piagam Madinah sebagai acuan pembangunan dan perjuangan. Para pemimpin Aceh baru mestilah komit dengan UUPA, baik komit dengan aplikasi menjalankan kandungannya maupun komit dengan penyempurnaannya.

UUPA memberikan kesempatan bagi bangsa Aceh untuk menjalankan Syariat Islam kaffah di merata bumi Aceh, maka jangan ada lagi tutur kata para pemimpin Aceh baru beserta pengikut-pengikut setianya: “tidak perlu menyebut-nyebut nama Islam di Aceh karena dari endatu kita sudah Islam”. Ini ucapan bobrok dan konyol. Sebaliknya para pemimpin Aceh baru harus berjuang keras bersama rakyat dan bangsa untuk memastikan berjalannya syariat Islam kaffah di bumi Aceh. Semoga!

Drs. Hasanuddin Yusuf Adan, Lc, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh/Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (Konsentrasi Politik Islam)
(http://aceh.tribunnews.com)